
Pemerintah Indonesia sedang mengembangkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui perbaikan gizi anak-anak. Program ini dipaparkan dalam forum kebijakan di Jakarta dengan menghadirkan James A. Robinson, pemenang Nobel Ekonomi 2024, yang turut mendengarkan penjelasan mengenai inisiatif tersebut.
Gizi yang cukup ternyata sangat berpengaruh pada kemampuan anak menyerap pelajaran di sekolah, yang nantinya akan berdampak pada produktivitas ketika mereka bekerja. Hashim Djojohadikusumo, dari Board of Advisors Prasasti, menjelaskan bahwa konsep MBG sebenarnya sudah dipikirkan sejak 2006 ketika Presiden Prabowo Subianto prihatin dengan kondisi gizi dan pendidikan anak-anak Indonesia.
Saat itu, angka stunting (kerdil) pada anak-anak mencapai sekitar 30 persen. Masalah gizi di Indonesia tidak hanya berarti anak-anak kekurangan makanan, tetapi juga sering terjadi ketika makanan yang mereka makan tidak memiliki nutrisi yang memadai.
Data yang dikumpulkan menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan: sekitar 41 persen siswa sekolah berangkat tanpa sarapan. “Jadi bisa anda bayangkan ketika anak-anak harus mengikuti pelajaran selama tiga, empat atau lima jam dengan perut kosong,” ujar Hashim, menggambarkan betapa sulitnya konsentrasi belajar dalam kondisi lapar.
Persoalan gizi ini dianggap kritis untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia—jumlah penduduk usia produktif yang melimpah. Jika gizi anak-anak terpenuhi dengan baik, diharapkan mereka tumbuh menjadi generasi yang produktif dan mampu berkontribusi pada perekonomian nasional.
Dalam presentasinya, Hashim juga membandingkan pencapaian pendidikan Indonesia dengan negara maju seperti Korea Selatan. Berdasarkan Programme for International Student Assessment (PISA), Korea selalu berada di posisi tiga hingga empat terbesar, sedangkan “Indonesia hampir selalu berada di 10 persen terbawah, atau termasuk yang terburuk. Terakhir kali saya melihat, Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 70 negara.”
Program MBG sendiri bukan inovasi baru di tingkat global—banyak negara sudah menjalankan kebijakan serupa lebih dulu. Namun untuk Indonesia, program ini menjadi langkah yang dinilai terlambat diambil. Dengan demikian, MBG dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan bagian integral dari upaya meningkatkan mutu pendidikan dan produktivitas tenaga kerja nasional.
Sumber: Antara News




