
Kebiasaan minum teh hangat atau es teh manis langsung setelah makan memang sangat umum di Indonesia. Namun, ahli kesehatan justru merekomendasikan untuk menunda atau mengurangi kebiasaan ini karena dampak negatifnya pada penyerapan nutrisi tubuh.
Masalah utama terletak pada kandungan tanin dan polifenol dalam teh. Senyawa-senyawa ini bekerja mengikat zat besi yang berasal dari makanan nabati seperti sayuran hijau, tahu, tempe, dan kacang-kacangan, sehingga tubuh tidak dapat menyerapnya secara optimal. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memasukkan teh dan kopi sebagai penghambat kuat dalam penyerapan zat besi nabati dalam panduan pencegahan anemia global.
Dampak ini tidak hanya terbatas pada zat besi saja. Senyawa kimia dalam teh juga mengikat mineral penting lainnya seperti kalsium, magnesium, dan seng, sehingga nilai gizi dari makanan yang dikonsumsi tidak terserap sempurna oleh tubuh. Jika dilakukan terus-menerus, risiko anemia defisiensi besi akan meningkat, terutama pada remaja, wanita usia subur, dan ibu hamil.
Selain itu, kafein dalam teh dapat merangsang produksi asam lambung berlebih. Bagi orang yang sensitif atau menderita gangguan lambung seperti GERD atau maag, minum teh setelah makan berat dapat memicu perut kembung, mual, dan nyeri di ulu hati. Sifat tanin yang mengikat protein juga berpotensi menyebabkan sembelit pada beberapa orang.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan gula dalam es teh manis yang sering cukup tinggi. Ketika dikonsumsi setiap hari setelah makan sebagai rutinitas, asupan gula berlebih ini dapat meningkatkan risiko penambahan berat badan dan diabetes tipe 2.
Tidak perlu berhenti minum teh sepenuhnya untuk menghindari masalah ini. Cukup dengan mengubah cara dan waktu konsumsi teh agar tetap aman bagi kesehatan tubuh. Dengan penyesuaian sederhana ini, Anda masih bisa menikmati teh favorit tanpa khawatir mengganggu penyerapan nutrisi dari makanan.
Sumber: Antara News




