Dari Papeda ke Ekowisata: Menelusuri Kekayaan Budaya dan Alam Sorong Selatan

Dari Papeda ke Ekowisata: Menelusuri Kekayaan Budaya dan Alam Sorong Selatan

Semangkuk papeda—makanan berbahan sagu yang bertekstur bening dan kenyal—ternyata bisa jadi jendela untuk mengenal seluruh cara hidup masyarakat Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Makanan sederhana ini bukan sekadar hidangan, melainkan cerminan hubungan mendalam antara manusia, alam, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun di wilayah Kepala Burung Papua.

Bagi warga Kampung Klaogin, hutan dan sungai bukan cuma hamparan alam biasa. Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen menyampaikan pandangan yang mengakar kuat: “Hutan dan sungai itu dapur kami, sekolah kami, tempat cerita orang tua kami tinggal.” Pengetahuan soal membaca musim, merawat hutan, hingga memilah tradisi mana yang boleh dibagikan ke luar, semuanya diturunkan dari para tetua ke generasi berikutnya.

Kawasan ini memang luar biasa secara ekologis. Hutan rawa gambut tropis di Sorong Selatan menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, menyebut kawasan ini bukan sekadar habitat keanekaragaman hayati—ia adalah sumber pangan, penanda musim, sekaligus penjaga memori leluhur bagi masyarakatnya.

Harapan agar kekayaan ini tetap terjaga juga disuarakan oleh Kepala Kampung Bariat, Adrianus Kemeray. “Kami ingin anak-cucu kami yang lahir di Bariat nanti masih bisa mengenal hutan dan sungai seperti yang kami kenal sekarang,” ujarnya. Pesan ini menjadi semangat utama di balik pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Kampung Klaogin, Konda, dan Bariat—program yang dirancang agar masyarakat adat tetap jadi pemegang kendali, bukan sekadar figuran.

Untuk memperkenalkan kekayaan ini ke publik lebih luas, program bertajuk “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua” digelar pada 1 hingga 4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Konservasi Indonesia, National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa, menampilkan pameran foto, dialog budaya, pertunjukan tari, hingga demonstrasi memasak papeda langsung oleh Lidia Sawor dan Orpa Sawen. Lewat cara ini, sepiring papeda berhasil membawa cerita yang jauh lebih besar dari sekadar rasa.

Sumber: Antara News

Kamu Mungkin Suka

Scroll to Top