Telur Matang Sempurna untuk MPASI: Panduan Aman Memperkenalkan Telur ke Bayi

Telur Matang Sempurna untuk MPASI: Panduan Aman Memperkenalkan Telur ke Bayi

Telur adalah sumber protein hewani yang bagus untuk bayi saat mulai mendapat makanan pendamping ASI (MPASI), biasanya sekitar usia enam bulan. Namun, cara memasak telur sangat penting untuk mencegah risiko kesehatan pada si kecil, terutama infeksi bakteri berbahaya.

Memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi bisa meningkatkan risiko infeksi bakteri Salmonella. Bakteri ini bisa ada di telur meski cangkangnya terlihat bersih dan tidak retak. Anak di bawah lima tahun lebih mudah terkena penyakit dari makanan yang terkontaminasi karena sistem imun mereka masih berkembang.

Salmonella menyerang saluran pencernaan dan menimbulkan gejala seperti diare, demam, kram perut, mual, dan muntah. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, gejala biasanya muncul antara enam jam hingga enam hari setelah terpapar bakteri. Sebagian besar orang pulih dalam empat hingga tujuh hari, tapi infeksi pada bayi bisa jadi lebih serius.

Data menunjukkan anak di bawah lima tahun memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar perlu dirawat di rumah sakit karena infeksi Salmonella dibanding kelompok usia lain. Risiko ini terjadi karena diare dan muntah bisa menyebabkan kehilangan cairan dengan cepat, yang berbahaya bagi bayi.

Beberapa orang tua memberikan telur mentah yang dicampur ke susu, bubur, atau makanan lain untuk menambah protein. Namun, cara ini tidak menghilangkan risiko kontaminasi bakteri. Makanan lain seperti adonan kue yang belum dipanggang dan mayones rumahan juga bisa mengandung telur mentah atau setengah matang yang berisiko.

Telur tetap bisa menjadi bagian menu MPASI asalkan dimasak dengan cara yang aman. WHO merekomendasikan makanan pendamping yang bergizi, aman, dan disiapkan dengan menjaga kebersihan. Orang tua perlu memastikan telur matang sempurna, menjaga kebersihan saat menyiapkan makanan, dan menyimpan bahan pada suhu yang tepat.

Jika bayi sudah mengonsumsi telur mentah, orang tua tidak perlu panik tapi harus mengamati kondisinya. Paparan tidak selalu menyebabkan infeksi, tetapi gejala seperti diare, demam, muntah, dan sakit perut perlu diwaspadai dalam beberapa jam hingga hari setelah konsumsi. Pada bayi, tanda dehidrasi seperti popok yang jarang basah, mulut kering, atau tubuh tampak lemas perlu mendapat perhatian serius.

Hubungi tenaga kesehatan jika bayi mengalami diare berulang, muntah terus-menerus, demam, darah dalam tinja, atau sulit minum. Bayi yang sangat kecil atau menunjukkan penurunan kondisi sebaiknya langsung diperiksa dokter. Dengan memastikan pengolahan telur yang benar, orang tua dapat memberikan manfaat nutrisi telur sambil melindungi kesehatan buah hati mereka.

Sumber: Antara News

Kamu Mungkin Suka

Scroll to Top