Antraks Muncul di Gunungkidul, Pemerintah Gerak Cepat Vaksinasi Ratusan Ternak

Antraks Muncul di Gunungkidul, Pemerintah Gerak Cepat Vaksinasi Ratusan Ternak

Temuan bakteri antraks di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta memicu respons cepat dari Kementerian Pertanian. Pemerintah pusat langsung turun tangan memperkuat kapasitas penanganan di tingkat daerah agar penyebaran bisa ditekan sejak dini.

Serangkaian langkah dilakukan secara bertahap. Penyelidikan epidemiologi—yakni penelusuran asal-usul dan pola penyebaran penyakit—digelar pada 11 September 2026. Keesokan harinya, kandang yang terdampak langsung disemprot disinfektan, sementara ternak yang sakit diobati dan yang sehat diberi vitamin.

Pada 14 September, sebanyak 88 ekor kambing dan 11 ekor sapi di wilayah itu menerima antibiotik dan vitamin. Setelah masa pemberian antibiotik selesai, vaksinasi antraks baru bisa dimulai pada 28 September 2026 untuk melindungi ternak di sekitar lokasi dari risiko penularan.

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa semua proses berjalan secara terkoordinasi. “Penanganan dilakukan secara terpadu. Petugas kesehatan hewan bersama pemerintah daerah telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, serta pemeriksaan laboratorium,” katanya.

Dari sisi laboratorium, Balai Besar Veteriner Wates mengambil sampel tanah dan swab dari lokasi kejadian. Hasilnya, beberapa sampel terbukti positif mengandung bakteri Bacillus anthracis, nama ilmiah dari kuman penyebab antraks. Kepala BBV Wates, Nur Saptahidhayat, menyebut hasil lab ini penting sebagai dasar koordinasi lintas sektor. “Sekaligus menjadi dasar bagi koordinasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit zoonosis,” ujarnya. Zoonosis sendiri adalah penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia.

Masyarakat di sekitar lokasi yang punya riwayat kontak dengan ternak sudah mendapat penanganan medis dan obat pencegahan dari petugas kesehatan. Sisa daging yang belum dimasak atau dikonsumsi juga sudah dimusnahkan sesuai prosedur oleh Puskeswan Semanu.

Hendra mengingatkan warga agar tidak gegabah jika menemukan ternak sakit atau mati mendadak. “Apabila ada ternak yang sakit atau mati mendadak, sebaiknya tidak disembelih atau dikonsumsi. Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan agar dapat diperiksa dan ditangani sesuai prosedur,” tegasnya. Kecepatan pelaporan warga menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih awal dan tidak meluas.

Sumber: Antara News

Kamu Mungkin Suka

Scroll to Top