
Di saat pembiayaan kendaraan bermotor secara keseluruhan justru mengalami penurunan, kredit untuk kendaraan listrik dan hybrid malah melesat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total pembiayaan kendaraan listrik atau EV oleh perusahaan multifinance — yakni lembaga keuangan non-bank yang menyediakan kredit seperti leasing — mencapai Rp26,20 triliun per Agustus 2026, tumbuh 34,67 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini jadi kontras yang mencolok karena total pembiayaan kendaraan bermotor dari semua jenis justru menyusut 0,68 persen secara tahunan menjadi Rp403,02 triliun. Artinya, segmen kendaraan listrik adalah salah satu dari sedikit titik cerah di industri pembiayaan otomotif saat ini.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, mengakui besarnya potensi sektor ini sekaligus tantangan yang masih mengintai. “Dalam pengembangannya, pembiayaan kendaraan listrik tentu perlu memperhatikan berbagai tantangan, antara lain perkembangan pasar serta kesiapan ekosistem pendukungnya,” ujarnya dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin.
Secara keseluruhan, total piutang — alias tagihan kredit yang belum lunas — seluruh industri multifinance tumbuh tipis 1,68 persen menjadi Rp514,08 triliun. Tingkat kredit bermasalah atau NPF gross tercatat di angka 3,04 persen, masih dalam batas yang dianggap terjaga oleh regulator.
Selain EV, segmen beli sekarang bayar nanti atau BNPL juga ikut tumbuh signifikan, naik 36,57 persen menjadi Rp13,61 triliun. OJK memproyeksikan industri multifinance masih akan tumbuh positif hingga akhir 2026, meski diperkirakan hanya di kisaran 2 hingga 4 persen karena tekanan ekonomi global yang turut memperlambat penjualan kendaraan. Tren positif kendaraan listrik tampaknya akan terus menjadi andalan pertumbuhan industri pembiayaan dalam waktu dekat.
Sumber: Antara News




